Saturday, May 19, 2012

Keajaiban Laba-laba Ciptaan Allah SWT 8 - Harun Yahya

KESIMPULAN
“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun) Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “
(QS. An-Nahl, 16: 73-74) !

Teori evolusi hanyalah pernyataan spekulatif yang tidak didukung oleh kriteria ilmiah dan bukti-bukti yang sahih. Lebih dari itu, pendapatnya bahwa setiap mahluk hidup muncul sebagai akibat kejadian kebetulan sama sekali tidak memiliki landasan logika ataupun landasan ilmiah.

Meskpun demikian, konsep evolusi dipertahankan karena merupakan satu-satunya harapan kelompok ideologi tertentu agar sebagian besar masyarakat terasing dari kebenaran. Karena alasan inilah, meskipun seluruh argumennya selalu bertentangan dengan kenyataan, mereka masih berusaha untuk tetap menjadikannya sebagai agenda mereka. Seperti halnya ketika dihadapkan dengan mahluk-mahluk hidup lainnya, begitu pula halnya dengan laba-laba. Teori evolusi tidak berdaya sama sekali; teori ini tak dapat menjelaskan bagaimana terjadinya keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki laba-laba.

Jika keistimewaan-keistimewaan laba-laba ini kita lihat dari sudut pandang evolusi, kita dapat lebih melihat betapa tidak warasnya teori evolusi ini. Mari kita bayangkan seekor serangga yang akan kita khayalkan sebagai nenek moyang dari semua laba-laba. Dengan keadaan demikian, ia tidak akan mampu untuk berburu apapun, dan akan segera mati kelaparan. Namun anehnya, khayalan kita ini dapat bertahan hidup karena kejadian kebetulan atau karena kekuatan lain yang tak dapat difahami.

Pada suatu hari, serangga yang buta dan tuli ini mempunyai gagasan membuat jaring untuk berburu. Namun serangga ini tentunya tak memiliki kemampuan arsitektural dan kemampuan berhitung yang diperlukan untuk membuat jaring. Satu demi satu ia harus menghitung: kecepatan angin dan kecepatan mangsa yang akan ditangkapnya, beban yang harus dipikul jaring, penyebaran beban-beban tersebut, daya dukung tanaman atau daun yang menjadi pondasinya, serta detil-detil lainnya. Sampai di sini mungkin muncul sebuah pertanyaan, "Bagaimana serangga ini dapat melakukan perhitungan?". Namun jangan lupa bahwa itulah logika dasar dari teori evolusi: evolusi, dalam usahanya untuk menyangkal adanya penciptaan, tidak memiliki pilihan lain kecuali mengkhayalkan bahwa serangga tersebut melakukan sendiri perhitungan di atas.

Bahkan jika kita terima bahwa serangga tersebut memiliki kecerdasan untuk merencanakan konstruksi sebuah jaring, tetap saja tidak dapat lolos dari maut; karena tidak memiliki peralatan untuk membuat jaring tersebut. Peralatan yang sesuai untuk pekerjaan tersebut tidak tersedia di alam. Kemudian dalam keadaan seperti ini, mahluk ini memutuskan untuk membuat benang untuk jaringnya. Lagi-lagi ia menghadapi masalah besar; bagaimana cara membuat benang ini?

Selanjutnya, karena kekuatan yang bernama kejadian kebetulan, beberapa perubahan terjadi di dalam tubuh serangga ini sehingga muncul lah enam kelenjar yang berbeda dalam bentuk yang sempurna. Kelenjar-kelenjar yang muncul di bagian bawah tubuhnya ini siap mengeluarkan cairan-cairan kimia yang diperlukan, dan mulai bekerja pada sistem tekanan dan sistem waktu yang bersesuaian. 

Secara kebetulan pula, cairan yang dihasilkan kelenjar-kelenjar ini saling bercampur dengan perbandingan tertentu sehingga dihasilkan bahan mentah bagi benang tadi. Karena kebetulan lainnya, dan dalam waktu yang bersamaan, cerat pemintal di belakang kakinya memintal serat-serat sehingga dihasilkan benang sempurna. Betapa mujurnya nasib kejadian kebetulan ini sehingga benang yang muncul lima kali lebih kuat daripada baja, dan tigapuluh persen lebih elastis daripada karet. Benang dengan karakteristik molekuler yang tak dapat ditiru manusia ini telah direncanakan oleh mahluk kecil yang dinamakan serangga.

Kemudian, serangga ini menjalin jaring, terkadang menggunakan benang-benang elastik yang lengket, dan di saat lain menggunakan benang yang kaku dan kuat. Sungguh suatu kebetulan bahwa kaki-kaki serangga ini berbuku tujuh [tiga?] sehingga dapat berjalan di atas jaring! Dan suatu kebetulan lain sudah terdapat pada kakinya; suatu lapisan khusus yang mencegah kakinya melekat pada jaring. Dan kejadian kebetulan itu tidak berhenti sampai di sini. Tubuh serangga yang tuli dan hampir buta ini ditutupi rambut-rumbut khusus yang dapat merasakan getaran kecil pada jaring, sejak hari pertama ia menjalin jaring. Maka menurut teori evolusi, laba-laba masa kini muncul sebagai akibat kejadian kebetulan dan memperoleh berbagai kemampuan yang tak dapat dirinci di sini.

Dengan mengkaji skenario ini, sungguh jelas betapa tidak masuk akalnya teori evolusi itu. Ada hal penting yang harus dicatat di sini. Pertama-tama, keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki laba-laba tidak mungkin muncul secara bertahap. Kemampuan-kemampuan yang disebutkan di atas harus timbul secara bersamaan. Suatu hal yang mustahil bahwa seekor laba-laba tahu cara membuat jaring tetapi tak dapat membuat sutera, atau dapat membuat sutera namun tidak tahu cara membuat jaring. Bagi laba-laba yang tidak membangun jaring, seperti laba-laba pelompat, seluruh kemampuannya diciptakan secara serentak dengan sifat-sifat yang bahkan lebih mengagumkan, yang sekaligus membuktikan kesekian ribu kalinya kebohongan teori evolusi.

Jika saja laba-laba dapat membuat jaring-jaring terindah, tanpa bahan lengket yang tersebar di atasnya, tetap saja jaring tersebut tidak bermanfaat. Jika bahan lengket tersebut ada, namun kali ini tanpa sifat-sifat molekul pembentuk elastisitas, dan secara alami hal seperti ini masih dapat diterima, maka jaring tersebut belum melayani sebuah tujuan apapun dan laba-laba pun akan mati.

Seekor laba-laba yang memiliki mekanisme yang diperlukan untuk membuat sutera, namun tidak mendapatkan bahan yang bernama skleroprotein dari makanan yang dicernanya, tidak akan dapat membuat sutera. Selain itu, jika laba-laba berjalan pada jaringnya, maka ia memerlukan pelapis kimia pada kakinya sehingga ia dapat berjalan tanpa melekat pada jaringnya. Pada sat yang sama, laba-laba memerlukan sistem pengindera untuk merasakan getaran-getaran pada jaringnya. Satu saja dari dari keistimewaan ini hilang, laba-laba akan segera mati.

Laba-laba memiliki sistem pernafasan, sistem pencernaan, dan sistem peredaran darah. Seperti yang lainnya, sistem-sistem ini harus muncul secara bersamaan. Kita tak dapat membayangkan seekor laba-laba tanpa perut atau jantung. Maka, agar semua organ seperti organ-organ pembuat jaring bisa ada, kode-kode genetika dari organ-organ ini harus ada dalam setiap jutaan sel yang membentuk laba-laba. Satu organ baru berarti informasi tambahan dalam jutaan tahapan dalam DNA, kode genetikanya. Suatu perubahan pada salah satu dari tahapan-tahapan ini berarti bahwa organ baru tersebut sama sekali tidak memiliki tujuan apapun. (Untuk informasi lebih rinci, lihat Harun Yahya, The Miracle In The Cell, Istambul, Vural Publishing [Keajaiban Dalam Sel, Penerbit Dzikra?]).


Ada hal lain yang menuntut perhatian. Seekor laba-laba yang baru keluar dari telur telah memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk membuat jaring tanpa menerima pelatihan terlebih dahulu. Berdasarkan pengetahuan ini, generasi-generasi laba-laba lahir dengan kemampuan membuat jaring. Bayi laba-laba sama sekali tidak mendapatkan pelatihan, dan tidak pernah mengikuti kursus-kursus.

Seorang insinyur konstruksi harus belajar di universitas sedikitnya selama empat tahun untuk memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk membangun sebuah gedung. Ia mempelajari ratusan karya akademis sebagai sumbernya. Kemudian melakukan perhitungan-perhitungan pada sebuah komputer. Ia mempunyai guru-guru yang membimbingnya dan mengajarinya cara melakukan perhitungan tersebut. Bangunan sebuah jaring laba-laba, beberapa ratus kali lebih besar dibanding laba-labanya, sedikitnya memerlukan jumlah perhitungan yang sama dengan pembuatan sebuah gedung. 

Bahkan lulusan universitas pun belum memadai untuk bisa merencanakan dan menghitung tegangan dalam benang-benang yang menyusun jaring, kekuatan pondasi yang mendukung jaring, kebenaran bentuk geometrinya, daya tahan dan elastisitas terhadap angin dan pergerakan mangsa, sifat-sifat fisika dan kimia dari benang, dan banyak rincian lain yang belum dapat kami daftar. Bagaimanapun juga, tidak ada satu universitas pun bagi bayi-bayi laba-laba. Segera setelah lahir ke dunia, mereka mulai membuat benang, membangun jaring, dan berburu.

Para ilmuwan evolusionis, karena tak sanggup menjelaskan alasan ini, dengan putus asa membuat pernyataan lain yang sama sekali menggelikan. Menurut logika yang menolak penciptaan mendasar ini, sebuah kekuatan tak dikenal yang disebut insting memerintahkan kepada laba-laba yang baru lahir apa yang harus dilakukan.

Jadi, apa itu yang disebut insting? Apakah merupakan inspirasi yang sumbernya tidak jelas, yang mampu membuat laba-laba menjadi seorang profesor ilmu fisika dan kimia, sekaligus sebagai insinyur konstruksi dan arsitek? Apa yang menjadi sumber inspirasi yang ada di dalam laba-laba ini, dan yang muncul dengan sendirinya? Mari kita mencoba menemukannya dengan mempelajari susunan tubuh laba-laba.

Seperti semua mahluk hidup lainnya, laba-laba tersusun dari berbagai protein. Protein-protein ini tersusun dari asam-asam amino. Kemudian, asam-asam amino terbuat dari menyatunya molekul-molekul besar. Dan molekul-molekul terbentuk ketika atom-atom mengikat menjadi satu. Mari kita mencari jawaban terhadap pertanyaan di atas. Di mana tepatnya letak insting pada laba-laba, yang memberitahu bagaimana cara membuat benang-benang yang tak dapat ditiru manusia, dan menghasilkan karya arsitektur dan rekayasa tiada banding? Ataukah di dalam protein-protein yang menyusun tubuhnya? Di dalam asam-asam amino yang menyusun protein-proteinkah? Ataukah di dalam molekul-molekul yang menyusun asam-asam amino? Ataukah di dalam atom-atom yang menyusun molekul-molekul? Yang mana salah satu dari semua ini yang menjadi sumber inspirasi yang dianggap kaum evolusionis sebagai insting?

Tentu saja tidak satu pun dari semuanya. Seperti semua mahluk hidup lainnya, laba-laba tunduk kepada Tuhan seluruh alam, dan berperilaku karena terilhami olehNya.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepadaNya. Tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Surat Al-Isra': 44)

Mereka berkata: 'Maha Suci Engkau!

Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.Engkau lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.'(Surat Al-Baqarah: 32)

<<  |

Keajaiban Laba-laba Ciptaan Allah SWT 7 - Harun Yahya

KEAJAIBAN PENCIPTAAN

Sebuah Contoh Dari Penciptaan Sempurna


“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan-(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Luqman, 31: 11) !

Kita mengetahui bahwa para laba-laba adalah "insinyur-insinyur" pembuat jaring, dengan keajaiban arsitektur dan rekayasanya. Mereka juga merupakan mesin-mesin pembunuh yang memiliki kemampuan untuk: membuat perangkap, membangun sarang di bawah air, memburu mangsa dengan lasso, melepaskan racun, melompat ratusan kali lebih tinggi dari tubuhnya sendiri, membuat benang-benang yang lebih kuat daripada baja dalam tubuhnya sendiri, menyamarkan diri selama berburu. Kita akan menjumpai keajaiban-keajaiban lainnya jika kita mengamati struktur tubuhnya serta sifat-sifat yang dimilikinya.

Banyak keistimewaan pada semua tubuh laba-laba yang menjadi bukti bahwa mereka itu diciptakan, antara lain: sisir-sisir yang berfungsi seperti pabrik tenun, laboratorium-laboratorium penghasil bahan kimia, organ-organ pencernaan yang sangat ampuh, indra yang mampu merasakan getaran yang sangat kecil, taring yang kuat untuk menyuntikan racun, dan lain-lain. Melihat semua sifat ini, laba-laba menjadi pengingkar terhadap teori evolusi dan sekali lagi meruntuhkan hipotesis menggelikan yang bernama kejadian kebetulan.Mari kita amati organ-organ laba-laba dan keistimewaan-keistimewaannya.

Tubuhnya
Secara mendasar, tubuh laba-laba terdiri dari dua bagian, kepala dan dada yang menyatu (cephalothorax), serta perut. Kepala dan dada memiliki delapan mata, delapan kaki, dua taring bisa dan dua peraba. Pada ujung perut yang lembut dan elastik terdapat cerat pemintal dan lubang-lubang untuk sistem pernafasan. Cephalothorax dan perut dihubungkan oleh batang kecil yang disebut "pedicel". Tidak ada mahluk lain yang pinggangnya seramping laba-laba. Melalui batang yang ukurannya kurang dari 1 mm ini dilewatkan alat pencernaan, pembuluh-pembuluh darah, pipa-angin, dan sistem syaraf. Kasarnya, terdapat sistem linier khusus yang menghubungkan kedua bagian tubuh laba-laba ini. Saluran-saluran tersebut membentuk suatu hubungan antara mekanisme luar biasa yang ada dalam struktur tubuh laba-laba (kelenjar-kelenjar bisa, kelenjar-kelenjar penghasil sutera, keseluruhan sistem syaraf tubuh, sistem pernafasan, dan sistem sirkulasi darah) dan otak.


Bagi laba-laba, membangun sebuah jaring seperti di samping ini haruslah mempunyai sisir yang berfungsi seperti pabrik pemintalan, laboratorium yang memproduksi bahan kimia, dan banyak lagi organ kompleks di dalam tubuhnya. Laba-laba yang memiliki semua ini, tanpa pengecualian, serta berbagai karakteristik yang relevan, menyangkal klaim evolusi dan mempersaksikan penciptaan yang sempurna oleh Tuhan.ion and bear witness to God's perfect creation.
Kaki-kaki Yang Berdayaguna


Laba-laba sangat peka terhadap getaran pada jaring mereka. Laba-laba Black Widow betina mampu menentukan apakah sumber getaran pada jaringnya adalah serangga yang tertangkap atau pejantan yang datang untuk mencari pasangan.
Laba-laba memiliki empat pasang kaki yang membuatnya mampu berjalan dan memanjat bahkan pada kondisi yang paling sulit sekalipun. Tiap-tiap kaki terdiri dari tujuh [tiga?] bagian. Pada masing-masing ujung kaki terdapat rambut-rambut yang disebut sebagai "scopula". Berkat inilah laba-laba dapat berjalan pada dinding atau dalam keadaan terbalik.

Konstruksi khusus dari kaki laba-laba tidak sekedar membuatnya mampu berjalan di permukaan yang tidak datar. Meskipun matanya tidak melihat dengan baik, karena konstruksi kakinya lah ia dapat bergerak dengan nyaman di malam hari. Beberapa spesies laba-laba hanya dapat mengindra cahaya …??????…, atau dengan kata lain hanya memiliki 10 persen daya lihat manusia. Namun meskipun demikian, laba-laba dapat membuat jaring dan bergerak di dalam jaring tersebut pada malam hari dengan mudahnya.


Foto yang diperbesar dari rambut-rambut sensitif pada kaki laba-laba.
The special construction of spiders' legs does not stop with allowing it to walk on non-flat surfaces. Despite the fact that their eyes do not see well, the spiders' ability to move about comfortably at night is due to the construction of their legs. Some species of spider can only sense light, or in other words possess only 10 percent of the sight of a human being. But despite this, spiders spin their webs at night and move about easily on them at the same time.

Laba-laba berjalan tanpa menginjak bagian-bagian jaring yang lengket, dan hanya menginjak bagian-bagian yang kering. Karenanya pula laba-laba mampu lolos dari kejaran musuh. Meskipun sempat menginjak bagian yang lengket, dan ini pun jarang terjadi, suatu cairan khusus mencegah kaki-kakinya melekat ke bagian lengket. Tiap ujung sisir yang dikenal sebagi cerat pemintal ditutupi oleh ratusan spigot. Sutera cair yang dihasilkan kelenjar-kelenjar dalam perutnya, dikeluarkan dari tubuh melalui cerat ini dan dipintal dalam bentuk sutera.

Spiders move about without treading on the sticky parts of the web, only the dry parts. They owe the fact that they are able to escape without getting caught, on the rare occasions that they tread on the sticky parts, to the fact that their feet are coated with a special liquid from their glands. The ends of the combs are known as spinnerets, each of which is covered with hundreds of spigots. The liquid silk produced by the glands in its abdomen is pushed out of the body by these nozzles and then spun in the form of silk.

Kemampuan-kemampuan indera superior
Kecuali laba-laba pelompat, kebanyakan laba-laba memiliki penglihatan yang buruk, dan hanya dapat melihat dalam jarak dekat. Kelemahan yang sangat tidak menguntungkan mahluk pemburu ini diimbangi oleh sistem peringatan dini yang sensitif.
Sistem peringatan tersebut bekerja berdasarkan indera peraba. Tubuhnya ditutupi rambut-rambut yang sangat sensitif terhadap getaran. Setiap rambut terhubung ke ujung syaraf. Getaran-getaran akibat sentuhan, atau bahkan suara dan bau, merangsang rambut-rambut ini. Getaran rambut-rambut mengaktifkan ujung-ujung syaraf. Syaraf-syaraf ini selanjutnya menyampaikan pesan ini ke otak. Dengan cara ini laba-laba dapat waspada bahkan terhadap getaran paling kecil sekalipun.

Laba-laba tidak dapat mendeteksi keberadaan mangsa yang tidak bergerak. Namun dengan menafsirkan getaran-getaran yang disebabkan mahluk-mahluk hidup, ia dapat mendeteksi posisi korban di dalam jaringnya. Jika tidak sepenuhnya yakin akan posisi mangsanya, ia memastikannya dengan jalan mengetuk-ngetuk dan dengan menggoyangkan jaringnya. Dari getaran-getaran yang dihasilkan, ia dapat menentukan lokasi mangsanya.


Salah satu laba-laba yang dikenal paling efektif memanfaatkan sifat pengiriman getaran jaringnya adalah laba-laba monyet, atau laba-laba jaring terowongan.
Kaki laba-laba merupakan organ yang sangat dibantu oleh rambut-rambut peraba. Rambut-rambut ini berongga dan kaku. Laba-laba dapat mengindera getaran yang timbul dari sumber usikan hingga sejauh satu meter. Selain itu, pada rambut kakinya terdapat sistem pengindera lain yang sensitif terhadap temperatur. Juga ada bintik-bintik pitak di permukaan tubuhnya dengan ujung syaraf yang sangat sensitif di bawahnya. Karena semuanya ini, laba-laba dapat merasakan setiap gerakan yang terjadi di sekitarnya, atau setiap benda yang mendekatinya, bahkan yang terjadi pada kulitnya sendiri.
Jika seekor laba-laba kehilangan sebuah kakinya, beberapa lama kemudian akan tumbuh penggantinya. Kaki yang baru lebih pendek dari kaki asalnya. Laba-laba tersebut tidak menggunakan kaki ini untuk berjalan, bahkan tidak membiarkannya menyentuh tanah. Fakta menunjukkan bahwa laba-laba dapat berjalan dengan nyaman walau hanya dengan setengah jumlah kakinya, yakni empat kaki saja. Satu-satunya alasan bagi tumbuhnya kaki baru ini, meskipun pendek, adalah kebutuhannya akan rambut-rambut penginderanya.

Ketajaman indera laba-laba terhadap getaran sedemikian tinggiya sehingga dapat mengetahui apakah sumber getaran itu mangsa yang tertangkap jaring ataukah laba-laba jantan yang datang untuk berkencan.

Hingga beberapa tahun yang lalu, diduga bahwa konstruksi elastik pada jaring tidak dapat meneruskan getaran. Namun hasil riset yang menggunakan mesin-mesin yang baru dikembangkan, "Vibrometri Laser Doppler", menunjukkan hasil yang sama sekali bertentangan. Meskipun konstruksinya elastik, kini diketahui bahwa jaring laba-laba menyalurkan getaran, bahkan menaikkan tingkat getarannya.( Bilim ve Teknik Görsel Bilim ve Teknik Ansiklopedisi (Science and Technology Gorsel Science and Technology Encyclopedia), p. 108) Hanya saja alasan ilmiahnya sampai kini belum diketahui.

Pada siang hari tarantula ini hidup di dalam jaring berbetuk kantung tidur yang dibuatnya. Pada malam hari ia me-ninggalkan jaring yang menyamarkannya itu dan pergi berburu.
Tubuh tarantula ditutupi oleh rambut yang bekerja seperti sistem peringatan dini. Rambut-rambut ini amat sensitif sehingga bahkan dapat menangkap getaran di udara yang ditimbul-kan oleh suara.
Laba-laba dapat mengindera beragam peringatan dengan sangat jelas, mulai dari gelombang bunyi kecil hingga getaran pada jaringnya. Dari sudut pandang laba-laba, sistem peringatan dini ini, yang disalurkan lewat jaring, merupakan mekanisme yang sangat penting yang memiliki karakteristik-karakteristik yang sangat berguna. Mengingat bahwa setiap helai rambut, yang jumlahnya ribuan, pada tubuh laba-laba ini terhubung ke ujung syaraf dan selanjutnya ke otak, dan mengingat bahwa laba-laba dapat mengevaluasi dengan cepat tanda peringatan yang diterimanya, maka kerumitan sistemnya menjadi semakin nyata.

Taring-taring Pemompa Racun


Tatkala cangkangnya menjadi terlalu sempit bagi pertumbuhan tubuh, tarantula harus menyingkirkannya. Tarantula dewasa bertumbuh meninggalkan kulitnya yang keras sekitar sekali setahun, dengan berguling dan bergelut selama berjam-jam, seperti sebuah tangan yang mencoba lepas dari sarung tangan yang sangat ketat. Ketika proses melepaskan cangkang ini rampung, laba-laba menjadi baru lagi lengkap dengan semua sistemnya dan mempunyai cangkang baru yang sifatnya sama dengan yang lama.

Laba-laba memiliki dua taring ampuh di depan matanya. Taring-taring ini merupakan senjata yang digunakan laba-laba untuk berburu dan mempertahankan diri. Di belakang masing-masing taring terdapat kelenjar bisa yang menyemprotkan racun maut. Jika laba-laba ingin membuat mangsanya tak berkutik, ia menancapkan taringnya ke tubuh mangsanya. Kemudian memompakan bisanya ke tubuh korbannya melalui lubang-lubang di taringnya.


Taring laba-laba
Laba-laba juga menggunakan alat maut yang menakutkan ini untuk membangun sarangnya dan untuk mengangkat benda-benda kecil. Di sisi kedua taring terdapat alat peraba yang disebut pedipalp. Laba-laba menggunakannya untuk memeriksa korban yang tertangkap dalam jaring.

Seperti telah kita lihat, sistem pengindraan laba-laba merupakan sebuah rancangan yang sangat khusus. Jelas sistem seperti ini menggugurkan pendapat teori evolusi yang mengatakan bahwa setiap mahluk berkembang sejalan dengan waktu. Selain itu, suatu hal yang mustahil untuk menjelaskan bahwa sistem penghasil racun maut dalam tubuh laba-laba merupakan kejadian kebetulan.

Susunan kimia bisa laba-laba ampuh untuk membunuh serangga. Agar tidak membahayakan, bisa ini disimpan di tempat yang terisolasi secara khusus. Taring laba-laba juga sangat fungsional. Mekanisme pemompaan bisa yang terletak di dalam taring tajam ini memudahkan pemindahan bisa ke tubuh korban. Dengan demikian, taring ini berfungsi sebagai senjata kimia sekaligus sebagai senjata fisik. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa setiap bagian tubuh laba-laba memiliki perencanaan yang khusus, yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep-konsep kebetulan, mutasi, atau mekanisme evolusioner khayal lainnya.Laba-laba, lengkap dengan segala sifatnya, diciptakan Tuhan. Semua sifat ini merupakan bukti atas karya-ciptaNya.

Pelumpuhan Mangsa Dan Sistem Pencernaan
Laba-laba membungkus rapat binatang-binatang yang tertangkap dalam jaringnya dengan benang khusus. Benang ini dibuatnya setelah korban benar-benar terjerat pada jaringnya. Selanjutnya, ia menancapkan taringnya dan menyuntikkan bisanya untuk membunuh mangsanya.

Laba-laba hanya dapat mencerna cairan. Partikel kecil yang lebih dari seperseribu milimeter disaringnya dengan rambut-rambut di sekitar mulutnya. Maka laba-laba harus mencairkan jaringan tubuh serangga sebelum dapat mencernanya. Karena itulah laba-laba membagi-bagi jaringan tubuh mangsanya dengan enzim-enzim pencerna. Setelah cukup encer, dihisapnya cairan ini dengan sistem penghisap yang sangat kuat. Sebagai contoh, setelah membunuh seekor lebah, laba-laba Misumenoides Formosiges membuat dua lubang. Satu di kepala atau leher, dan yang lainnya di perut. Kemudian ia menghisap habis cairan dalam tubuh lebah tersebut melalui lubang-lubang ini.



1-Pesan Beracun

Taring berongga menyuntikkan racun yang diproduksi di dalam pentolan kecil yang berdekatan. Racun ini cukup kuat untuk membunuh binatang seperti burung, kadal, dan kelinci
2-Sistem Pengantar Jantan
Tarantula jantan dilengkapi dengan sungut khusus, anggota badan yang berbentuk kait pada lengan pemakan yang pendek di dekat mulut. Ketika siap untuk kawin, pejantan menenun jaring dan menyimpan tetesan sperma di situ. Sperma kemudian ditarik ke dalam ujung berbentuk pentol di sungut, yang menyimpannya ke dalam betina.

3-Kaki Kucing yang Kecil
Dengan diapit oleh berkas bulu pelindung, cakar-cakar yang dapat ditarik masuk dan setajam jarum memungkinkan tarantula memanjat dinding. Di bawahnya, bantalan rambut yang seperti beludru memopang bobot laba-laba - dan menciptakan delapan ponton pengapung yang memungkina tarantula berjalan di atas air.
4-Sistem Peringatan Dini
Karena sensitif terhadap getaran terhalus maupun angin, kantung rambut berporos putar di kaki dan tungkai tarantula dapat memperingatkannya akan bahaya yang mendekat. Berkat keistimewaan ini, tarantula dapat menyadari segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Sistem peringatan ini sangat penting, karena inilah satu-satunya cara bagi laba-laba, yang praktis buta, dapat mengindra dunia di sekelilingnya.

5-Sistem Pertahanan
Dengan kibasan kaki belakang, tarantula meluncurkan rambut-rambut halus yang dipenuhi duri-duri mikroskopis untuk mempertahankan diri. Begitu melekat di kulit atau mata penyerang, duri akan menyebabkan rasa gatal tak tertahankan yang dapat bertahan hingga berbulan-bulan.

Laba-laba mencampur jaringan yang dihisapnya dengan cairan pencerna di dalam tubuhnya. Ketika gaya vakum dalam tubuh korban melewati kekuatan hisapnya, laba-laba mengendorkan otot-otot penghisap di sekitar perutnya. Ini memberi peluang bagi cairan pencerna dari tubuh laba-laba untuk masuk ke bagian lain dari tubuh lebah serta melarutkannya. Kemudian laba-laba menghisap pada lubang lain di bagian perutnya. Rotasi penghisapan terus berjalan hingga tubuh laba-laba menjadi kosong sama sekali. Selain sebagai sumber makanan, tubuh lebah tersebut juga menjadi bagian dari sistem pencernaan laba-laba - sebagai sistem tambahan sementara. Akhirnya, tubuh lebah menyerupai cangkang telur yang kosong; tak ada yang tersisa kecuali cangkangnya.

Serangga bukanlah satu-satunya mangsa laba-laba. Katak, tikus, ikan, ular, atau burung kecil bisa menjadi korbannya. Laba-laba yang dikenal sebagai "laba-laba burung" bahkan cukup ampuh untuk menangkap dan mencerna kelinci dan anak ayam.
Laba-laba Yang Berjalan Di Air


Laba-laba dapat menahan lapar untuk waktu yang lama. Misalnya, masa hidup laba-laba serigala sekitar 305 hari. Ia dapat menghabiskan 208 hari tanpa makan apa-apa. Ia sanggup menahan lapar seperti ini dengan mengurangi metabolisme tubuhnya hingga 1/40. Setelah masa itu, berat tubuh laba-laba yang berburu dapat meningkat sampai dua kalinya. Ini terjadi karena tubuh mereka diciptakan untuk beradaptasi terhadap kondisi-kondisi ekstrem.

Laba-laba air memiliki struktur tubuh khas yang memungkinkannya berjalan di atas air. Pada tiap ujung kaki laba-laba terdapat jalinan tebal beludru yang terdiri dari rambut-rambut yang berlapiskan lilin anti-air. Ini memungkinkannya berjalan di atas air tanpa tenggelam. Daya apungnya sedemikian tinggi sehingga dapat berjalan nyaman di atas air meskipun berat tubuhnya 25 kali lebih besar lagi.

Ketika berjalan di atas air, laba-laba air menggunakan kaki belakangnya sebagai kemudi. Kaki tengahnya untuk bergerak, sedangkan kaki depannya yang lebih pendek untuk menangkap mangsa. Laba-laba air bergerak demikian cepat sehingga dengan tiba-tiba dapat melompat kedepan sejauh satu meter di atas permukaan air. Artinya, ia bergerak secepat perahu-motor.


Laba-laba air menggunakan permukaan air seperti jaring untuk berburu, berkat sifat tahan air kaki mereka. Setiap makhluk hidup diciptakan Allah dengan berbagai ciri yang mereka butuhkan.

Saat berburu, laba-laba air menggunakan permukaan air sebagai jaring. Capung, lalat, atau kupu-kupu yang jatuh ke air karena gagal terbang merupakan mangsa ideal bagi spesies laba-laba ini. Ketika sayap-sayapnya menyentuh air, serangga ini terperangkap di permukaan air seperti melekat pada kertas-lalat. Getaran terlemah yang ditimbulkannya pada permukaan air dapat dirasakan oleh laba-laba ini. Selain lokasi jatuhnya, laba-laba ini juga dapat mengukur besar mangsa yang jatuh. Dengan segera ia memburu ke arah mangsanya yang terperangkap di air, menggigitnya dengan bisanya dan membunuhnya.

Orang mungkin bertanya, siapa yang memberi lapisan lilin pada rambut-rambut di kaki laba-laba ini sehingga binatang ini tidak tenggelam? Atau lebih luas lagi, bagaimana setiap laba-laba air bisa memiliki kaki dengan lapisan pelindung seperti itu? Bagaimana laba-laba tahu cara membuat dirinya terapung, tahu sifat-sifat molekul-molekul anti air dan reaksinya dengan molekul-molekul air? Karena laba-laba tidak mungkin merencanakannya sendiri, lalu siapa yang melakukannya? Dan karena sistem terencana ini mustahil terjadi dengan sendirinya, atau secara kebetulan, bagaimana asal kejadian sebenarnya? Dan bagaimana sistem dan rumus kimia anti air ini diteruskan ke generasi laba-laba berikutnya?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan mengarahkan kita kepada keberadaan penciptaan yang sempurna. Laba-laba diciptakan dalam bentuknya yang sempurna oleh Tuhan. Seperti halnya pada mahluk lain, Tuhan melengkapi laba-laba dengan peralatan yang diperlukan, yakni kemampuan untuk berjalan di atas air.

<<  |  >>

Sumber

Keajaiban Laba-laba Ciptaan Allah SWT 6 - Harun Yahya

JARING LABA-LABA SUATU KEAJAIBAN PERENCANAAN

C:\Users\kişi\Desktop\My Pictures\HAKİKATLER\orumcek3jpg.jpg
Sebagaimana berbagai kualitasnya yang lain, seperti kekuatan dan elastisitas, serta berbagai keuntungan praktisnya, jaring-jaring laba-laba adalah keajaiban arsitektur dan rekayasa.

Jaring laba-laba terbuat dari benang-benang kerangka penahan-beban dan benang-benang spiral penangkap berlapiskan zat perekat yang diletakkan di atasnya, serta benang-benang pengikat yang menyatukan kesemuanya. Benang-benang spiral penangkap tidak sepenuhnya terikat pada benang-benang perancah. Dengan ikatan seperti ini, makin banyak korban bergerak makin terjerat ia pada jaring. Saat melekat ke seluruh tubuh serangga korban, benang-benang penangkap secara berangsur-angsur kehilangan elastisitasnya, dan semakin kuat serta semakin kaku. Karenanya, korban terperangkap dan tak dapat bergerak. Setelah itu, bagai paket makanan hidup, mangsa yang terbungkus benang-benang perancah alot ini tak memiliki pilihan lain kecuali menanti kedatangan laba-laba untuk melakukan serangan terakhir.

Daya Redam-kejut Jaring Laba-laba
Untuk menjadi perangkap yang efektif, jaring laba-laba tidak cukup hanya bersifat lengket atau terbuat dari benang-benang dengan karakteristik yang berbeda-beda. Misalnya, jaring tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menangkap serangga yang sedang terbang. Jika kita andaikan serangga yang tertangkap jaring sebagai peluru kendali, maka menghentikan serangganya saja tidak lah cukup. Mangsa yang tertangkap jaring harus dibuat tidak bergerak sehingga laba-laba dapat mendekatinya dan menggigitnya. Menangkap peluru kendali dan menghentikannya bukan lah pekerjaan yang mudah.


“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, ....” (QS. Huud, 11: 6) !
Selain kuat, benang-benang yang membentuk jaring laba-laba juga elastik. Namun tingkat elastisitasnya pada masing-masing daerah berbeda. Elastisitas ini penting untuk alasan-alasan berikut ini:

" Jika tingkat elastisitasnya lebih rendah dari yang diperlukan, serangga yang terbang menuju jaring akan terpental balik seperti menubruk sebuah pegas yang keras.

" Jika tingkat elastisitasnya lebih tinggi dari yang diperlukan, serangga akan memolorkan jaring, benang-benang lengket akan menempel satu sama lain dan jaring tersebut akan kehilangan bentuknya.

" Pengaruh angin telah masuk dalam perhitungan elastisitas benang. Jadi, jaring yang teregang oleh angin dapat kembali ke bentuk semula.

" Tingkat elastisitas juga sangat berhubungan dengan benda yang melekat pada jaring. Sebagai contoh, jika jaring melekat pada tumbuhan, elastisitasnya harus mampu menyerap setiap gerakan yang disebabkan tumbuhan tersebut.

Benang-benang penangkap yang terjalin berbentuk spiral letaknya saling berdekatan satu dengan lainnya. Ayunan kecilpun dapat saling melekatkan satu dengan lainnya, dan menyebabkan celah-celah pada medan perangkap. Itulah sebabnya benang-benang penangkap yang lengket dan berelastisitas tinggi ini terletak di atas benang-benang kering yang berelastisitas rendah. Ini untuk mencegah potensi terbentuknya celah untuk lolos.

Seperti telah kita lihat, pada setiap segi jaring dapat kita lihat suatu keajaiban struktural. Hal ini sekali lagi mengungkapkan betapa bodohnya teori evolusi itu. Mustahil sekali suatu kejadian kebetulan dapat mengajarkan kepada laba-laba cara menciptakan sifat redam-kejut pada jaringnya. Tuhan lah yang menganugrahinya kemampuan ini. Dia lah yang membuatnya mampu menunjukkan perilaku fungsional.

Dia lah Allah - Pencipta, Pembuat, dan Pemberi bentuk. Baginya semua nama-nama yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hashr:24)

Jaring-jaring Tiga-Dimensi
Jaring-jaring tiga dimensi memiliki struktur yang lebih rumit dibanding jaring-jaring dua dimensi. Sementara jaring dua dimensi terletak dalam satu bidang datar, jaring tiga dimensi merupakan struktur tiga dimensi yang rumit. Jaring dari jenis ini mirip sebuah tumpukan bola-bola wool. Karenanya lebih sukar diurus dibanding jaring dua dimensi. Jika jaring menangkap serangga-serangga kecil atau parasit-parasit yang tak berarti, maka banyak pekerjaan yang harus dilakukan laba-laba pemilik jaring. Karena alasan inilah laba-laba ini membuat jaring di tempat yang jauh dari gangguan semacam ini.


Jaring laba-laba memiliki perencanaan tanpa salah dalam segala segi.
Salah satu laba-laba yang menggunakan jaring semacam ini adalah laba-laba Black Widow. Dalam jaring yang memiliki keunggulan arsitektural ini terdapat pula suatu perangkap mekanis. Perangkap ini membentuk bola sutera yang rapat dan lengket. Bola jaring ini diikatkan ke tanah dengan benang-benang yang tidak begitu kuat. Segera setelah mahluk bergerak melekat pada jaringnya, benang-benang pengikat ini putus, dan bola jaring ini karenanya tidak terikat lagi ke tanah. Kemudian, laba-laba segera menarik perangkap tersebut ke atas menuju jaring tiga-dimensi, dan membunuh mangsanya yang telah mati kutu.

Kita harus melihat secara saksama rencana serta cara yang digunakan laba-laba ini dalam membuat perangkapnya, karena nampak sekali terdapatnya unsur kecerdasan yang terlibat dalam perencanaan jaring tersebut. Dengan ataupun tanpa perangkap mekanis, pada jaring-jaring tiga-dimensi digunakan cara yang sama untuk memperlambat gerakan terbang mangsanya.

Penerapannya nampak secara khusus pada kerangka rencana yang menggunakan banyak benang-benang lemah. Ketika serangga tertangkap, benang-benang lemah ini melesak. Karena energi gerak dari serangga tersebut terserap oleh melesaknya benang-benang, kecepatannya menjadi berkurang. Selanjutnya, benang-benang penangkap menjerat serangga yang menggeliat.


Laba-laba Linyphia me-mintal jaring dalam bentuk tempat tidur gantung (dae-rah putih di bagian bawah). Jaring disangkutkan kepada tanaman dengan benang pada bagian puncak dan ba-gian bawah. Serangga yang tertangkap pada benang di bagian atas, jatuh ke dalam. (atas)

Sebagian jaring tiga dimen-si mempunyai konstruksi se-perti kubah. Laba-laba da-pat mengidentifikasi secara pasti bahkan seekor serang-ga kecil yang tertangkap di dalam konstruksi yang rumit ini melalui getaran yang di-timbulkannya.
Tentu saja laba-laba ini tidak belajar sendiri bagaimana membuat jaring-terencana tanpa cacat ini setelah menjalani apa yang disebut periode evolusi. Seperti mahluk hidup lainnya, laba-laba mematuhi perintah Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah menyerukan hal ini dalam ayat suciNya " segala yang di langit dan di bumi, secara sukarela ataupun terpaksa, tunduk kepadaNya. Dan kepadaNya lah mereka akan dikembalikan". (Surat Ali Imran:83)

Cara Mengurus Jaring


Laba-laba meletakkan desain seperti zig zag di atas jaring mereka untuk mencegah burung merobeknya.
Jaring laba-laba memerlukan pengurusan yang terus menerus, karena bagian spiral lengketnya bisa rusak oleh hujan atau oleh gerakan mangsa yang berusaha lolos. Lebih dari itu, debu yang menempel pada jaring dapat merusak daya lekat benang-benang spiral.

Bergantung pada letaknya, dalam waktu yang singkat - 24 jam, sebuah jaring bisa kehilangan sifat-sifat yang membuatnya mampu menangkap serangga. Karena alasan inilah, jaring dibongkar secara berkala dan dibangun kembali. Laba-laba makan dan mencerna benang-benang jaring yang dibongkarnya. Ia menggunakan asam-asam amino dari benang yang dicernanya untuk membangun jaring yang baru. (Bilim ve Teknik Görsel Bilim ve Teknik Ansiklopedisi (Science and Technology Gorsel Science and Technology Encyclopedia), p. 1090)

Bagian jaring yang dimakan, dan waktunya, berbeda-beda tergantung spesies laba-labanya. Laba-laba taman, misalnya, tidak pernah menyentuh kerangka jaring, tetapi hanya makan benang jari-jari dan benang spiralnya saja.

Laba-laba tropis membangun jaring-jaringnya pada malam hari dan memakannya menjelang pagi. Laba-laba di daerah panas makan jaringnya pada malam hari dan membangun yang baru untuk keperluan siang hari, karena di daerah ini serangganya tidak sebanyak di daerah tropis. Karena alasan inilah jaringnya harus tetap terpasang disepanjang siang.
Membangun Jaring Sesuai Mangsanya

                                                              
Atap Stadion Olimpiade Munich terinspirasi oleh jaring laba-laba. Dengan bentuk ini, berbagai tegangan didistribusikan dengan merata ke seluruh atap.
Laba-laba membuat jaringnya sesuai dengan ukuran mahluk-mahluk yang hendak ditangkapnya. Laba-laba Amerika Selatan, misalnya, membuat jaring dengan bukaan sempit untuk memudahkan penangkapan semut putih yang keluar mencari sarang baru di bulan September. Jika ingin berburu kupu-kupu besar, laba-laba ini memperluas bukaannya dan menambah kekuatan serta elastisitas jaringnya.

Sudut jaring pun berubah bergantung jenis mangsa yang ingin ditangkap (serangga terbang, berjalan, merayap, dll). Ini untuk mengurangi kerusakan dan meningkatkan kapasitas penangkapan.

Peringatan Kepada Burung Dan Penyamaran

Laba-laba cenderung membangun jaringnya, yang demikian berharga baginya, di tempat yang sunyi. Alasannya adalah untuk menghindari kerusakan oleh binatang-binatang atau oleh kondisi-kondisi alam. Laba-laba menggunakan cara-cara yang menarik untuk melindungi jaring-jaring mereka. Salah satu yang paling menarik adalah jaring laba-laba Argiope di Amerika Tengah. Laba-laba ini meletakkan marka-marka zigzag putih mengkilat pada jaringnya. Marka-marka ini untuk memperingatkan burung agar tidak terbang kedalam jaring. Laba-laba ini juga menggunakan marka-marka ini untuk bersembunyi di belakangnya. Ia menanti di belakang marka-marka ini agar mangsa tidak melihatnya.

Model-model Yang Terilhami Oleh Jaring Laba-laba

Salah satu metode yang sangat populer dewasa ini adalah membuat rancangan-rancangan industri dengan mengambil contoh dari alam, karena model-model di alam dalam setiap segi tidak memiliki cacat. Sifat-sifat hemat-energi, tingkat estetika, tingkat kepraktisan, dan manuverabilitas antara lain merupakan hal yang penting bagi sebuah rancangan yang telah tersedia dalam bentuk yang sempurna di alam ini. Model-model yang dibuat manusia dengan kemampuannya, serta pengetahuan yang dikumpulkannya bertahun-tahun dan yang diantaranya melalui proses yang sulit, umumnya hanya menghasilkan tiruan yang buruk terhadap contoh-contoh yang ada di alam. Kita bisa melihatnya jika kita membandingkan tiruan-tiruan ini dengan contoh aslinya di alam.

Laba-laba merupakan salah satu mahluk hidup yang dijadikan contoh. Jaring laba-laba mahkota atau laba-laba embun, misalnya, merupakan contoh yang sangat sempurna dari sudut pandang estetika maupun rekayasa. Laba-laba ini membuat jaringnya pada sudut datar, sedemikian rupa sehingga mirip sebuah seperai, di atas padang rumput. Laba-laba ini menyebarkan seluruh beban jaring dengan menggunakan bilah-bilah rumput tegak sebagai pemberat.

Sarang burung berbentuk lonceng di Munich, terinspirasi oleh teknik yang digunakan oleh laba-laba rakit dalam membangun jaringnya.
Sebuah projek pemukiman bawah air yang terinspirasi oleh jaring laba-laba air tawar. Untuk kelangsungan hidupnya, laba-laba membawa udara yang dibutuhkan dan makanan ke dalam jaringnya yang tahan air. Pada pemukiman bawah air, kaca digunakan sebagai pengganti jaring.
Manusia meniru cara ini untuk menutupi bidang-bidang yang luas. Stadion Olimpiade Munich dan bandara udara Jeddah, yang sering disebut sebagai contoh arsitektur moderen, dibangun dengan meniru jaring laba-laba.

Laba-laba telah menggunakan model-model ini di seluruh dunia sejak pertama kali mereka muncul. Tentu saja diperlukan tingkat pengetahuan rekayasa yang memadai agar model-model tersebut bisa muncul dan diterapkan dalam praktek. Namun karena tidak pernah menerima pelatihan, laba-laba tidak tahu sama sekali mengenai perancangan konstruksi maupun arsitektural. Laba-laba, seperti mahluk hidup lainnya, berbuat hanya berdasarkan inspirasi yang dianugrahkan Tuhan kepadanya sejak mereka lahir. Ini merupakan satu-satunya sebab dari keajaiban arsitekturalnya. Tuhan menyatakan dalam sebuah ayat bahwa semua mahluk hidup berada di bawah kekuasaanNya.

Dia lah Allah, Tuhanmu. Tidak ada tuhan kecuali Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia. Dia bertanggungjawab atas segala sesuatu. (Surat Al-An'am: 102)

<<  |  >>

Keajaiban Laba-laba Ciptaan Allah SWT 5 - Harun Yahya

KEAJAIBAN SUTERA


“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”
(QS. Thaahaa, 20: 98) !
Setiap orang mengetahui bahwa untuk membuat jaring, laba-laba menggunakan benang sutera yang dihasilkan tubuhnya sendiri. Namun tahap-tahap pembuatan benang dan keistimewaan-keistimewaannya tidak begitu dikenal. Benang yang diproduksi laba-laba, dengan diameter kurang dari satu perseribu milimeter, lima kali lebih kuat dibanding tali baja yang berdimensi sama. Lebih dari itu, benang ini dapat molor hingga empat kali panjang normalnya. Yang menakjubkan lagi, sutera ini sangat ringan. Sebagai gambaran, benang sutera yang direntangkan mengelilingi bumi hanya memiliki berat 320 gram saja. -Bilim ve Teknik Görsel Bilim ve Teknik Ansiklopedisi (Science and Technology Gorsel Science and Technology Encyclopedia), p. 1087

Akan bermanfaat jika kita melihat lebih jauh pada detil teknis di atas. Fakta bahwa sutera lima kali lebih kuat dibanding baja, tidak dapat kita terangkan begitu saja. Karena baja, yang dikenal sebagai salah satu material terkuat di dunia, merupakan logam campuran yang diproduksi di pabrik besar dengan serangkaian proses-proses. Meskipun lima kali lebih kuat dibanding baja, sutera laba-laba tidak dibuat dalam pabrik-pabrik besar, melainkan dibuat oleh seekor arachnida. Dapat kita lihat bahwa semua laba-laba dapat membuatnya. Baja merupakan material berat, dan karenanya sulit digunakan. Baja dibuat dalam tungku besar pada temperatur tinggi, dan dipakai setelah melalui proses pendinginan dalam cetakan-cetakan. Berbeda dengan itu, benang laba-laba sangat ringan,dan dibuat dalam tubuh tubuh laba-laba yang kecil, bukannya dalam tungku-tungku dan cetakan-cetakan raksasa.


“Laba-laba serigala” mempersiapkan kepompong yang tanpa tara untuk telurnya. Bagian luar kepompong yang keras melidungi telur dari bahaya luar. Bagian dalam yang dibantali oleh sutera, memberikan kenyamanan maksimal. Laba-laba ini memasukkan telur melalui sebuah lubang di atas kantung. (atas) Kemudian ia menutup lubang dan telur mendapatkan perlidungan perisai yang sempurna. Satu spesies di Oklahoma membuat sebuah sarang yang berbantalan untuk dirinya sendiri. Ia mencari selembar daun dan membawanya dengan mulutnya. Ia melipat daun ke atas dan mengaitkan ujung-ujungnya dengan sutera khusus. (Samping) Untuk menjamin kenyaman sarang, ia melapisi diding dalam dengan sutera.
Aspek ajaib lainnya adalah elastisitasnya yang sangat tinggi. Sulit sekali bisa menemukan material yang kuat sekaligus elastis. Sebagai contoh, kabel baja merupakan salah satu bahan terkuat di dunia. Namun karena tidak elastik seperti karet, baja kehilangan bentuknya secara perlahan. Dan meskipun kabel-kabel karet tidak mengalami kehilangan bentuk, bahan ini tidak cukup kuat untuk mengangkat beban-beban berat. Sebaliknya, sutera laba-laba lima kali lebih kuat dibanding kawat baja dengan ketebalan yang sama, dan 30 persen lebih elastik dibanding karet yang tebalnya sama.( Technology Review, Synthetic Spider Silk, October 1994, p. 16) Dalam istilah teknis, dari segi kekuatan tarik dan elastisitasnya, tidak ada material lain yang menyerupai benang laba-laba.
Hasil riset terhadap laba-laba beberapa dekade yang lalu telah menimbulkan beberapa pertanyaan. Sebagai contoh, sementara manusia membuat kabel-kabel baja dan karet berdasarkan pengetahuan yang dikumpulkannya beratus-ratus tahun yang lalu, pengetahuan apa yang digunakan laba-laba untuk membuat benang yang demikian unggul? Mengapa manusia tidak dapat memahami formulanya dan menggunakannya dalam praktek? Apa yang membuat sutera laba-laba demikian unggul? Jawabannya tersembunyi dalam kunstruksi sutera. Riset yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengolah bahan kimia internasional baru bisa menentukan sebagian bahan dari benang laba-laba ini.

Pembuatan Sutera

Sutera yang dibuat laba-laba jauh lebih kuat dibanding serat alami atau serat sintetik manapun yang kita kenal. Menyadari hal ini, para ilmuwan mulai bereksperimen untuk memahami bagaimana laba-laba membuatnya. Mereka yang pertama kali melakukannya berpikir bahwa hal tersebut semudah mengambil sutera dari ulat sutera. Namun ternyata pikiran mereka keliru.

Setelah melakukan riset, ahli zoologi evolusioner dari Aarhus University Denmark, Fritz Vollrath menyatakan bahwa tidak mungkin untuk memperolehnya secara langsung dari laba-laba. Menghadapi kenyataan ini, para ilmuwan mendapat gagasan alternatif berupa "produksi sutera laba-laba buatan". Namun sebelum itu, para peneliti harus mengetahui cara laba-laba membuat suteranya. Dan ini membutuhkan waktu beberapa tahun. Dalam karyanya beberapa waktu kemudian, Vollrath menemukan beberapa bagian dari cara pembuatan tersebut. Cara yang digunakan laba-laba sungguh serupa dengan proses yang digunakan untuk membuat serat-serat industri seperti nilon: laba-laba mengeraskan suteranya dengan mengasamkannya. Vollrath memusatkan penelitiannya pada laba-laba taman yang dikenal sebagai Araneus diadematus, dan memeriksa saluran yang dilalui sutera sebelum keluar dari tubuhnya. Sebelum memasuki saluran ini, sutera terdiri dari protein-protein sutera. Di dalam saluran ini, sel-sel khusus mengeluarkan air dari protein-protein sutera tersebut. Atom-atom hidrogen yang diambil dari air tersebut dipompakan ke bagian lain dari saluran dan menghasilkan bak asam. Ketika protein-protein sutera bersentuhan dengan asam tersebut, protein-protein ini melipat dan saling membentuk jembatan-jembatan yang mengeraskan suteranya.( Discover, How Spiders Make Their Silk, October 1998, p. 34 ) Tentu saja pembentukan sutera ini tidak sesederhana itu. Agar sutera terbentuk, diperlukan bahan-bahan lain dengan segudang sifat yang beragam.

Cukup dengan mengamati kelenjar sutera kita akan menyadari bahwa laba-laba tidak dapat muncul secara kebetulan. Gambar ini menunjukkan kelenjar-kelenjar pada bagian kanan tubuh laba-laba Madagaskar (Nephila mada-gascarensis). Terdapat juga kelenjar pada bagian kiri tubuh. Kelenjar sutera 1 dan 2 menghasilkan sutera kering untuk berpegangan bagi laba-laba saat berjalan di jaringnya, atau ketika memanjat naik dan turun. Sutera lengket dihasilkan di kelenjar lain (3). Sutera dasar ini dilapisi dengan kelenjar adhesif (lengket) (4 dan 5). Kelenjar ke-6 memproduksi zat rekat yang dibutuhkan untuk menempelkan sutera di permukaan lain. Kelenjar ke-7 memproduksi bahan dasar untuk sebuah sutera tipis yang khusus untuk membungkus mangsa setelah tertangkap. Kelenjar ke-8 menghasilkan sutera untuk kepompong. Nomor 9, 10, dan 11 menunjukkan cerat-cerat pemintal (nosel sutera). Laba-laba membuat suteranya dengan menggunakan sistem yang tak ada bandingannya ini. Jelaslah sistem ini, dengan berbagai struktur dan fungsinya yang berbeda-beda, tidak dapat muncul melalui peristiwa kebetulan. Laba-laba diciptakan lengkap dengan sistem ini oleh Allah yang Mahakuasa.
Bahan mentah sutera laba-laba adalah "keratin", suatu protein yang tampil sebagai untaian helikal terjalin dari rantai-rantai asam amino. Bahan ini juga ditemukan pada rambut, tanduk dan bulu binatang. Laba-laba memperoleh semua bahan mentah suteranya dari sintesis asam-asam amino dari hasil pencernaan mangsanya. Laba-laba juga makan dan mencerna jaringnya sendiri sebagai bahan untuk membuat jaring berikutnya.

Benang di Bawah Mikroskop


Sebagaimana akan terlihat dari gambar perbesaran 200 kali di kanan, benang yang kering ini (dari laba-laba cribellate) ter-bentuk dengan berkumpulnya ratusan benang kering mikro. Sutera ini sudah lengket tanpa dilapisi dengan cairan apa pun. Sifat lengketnya terjadi berkat penyisiran yang dilakukan laba-laba saat memintal suteranya. Penyisiran ini, yang dilakukan dengan sebuah sisir halus yang terdapat pada garis di kaki be-lakangnya, memperbesar be-nang. Pengembangan ini ha-nya dapat terlihat di bawah perbesaran 1000 kali dan efek elektrostatis yang diciptakan memberi benang sifat perang-kapnya. Mustahil sifat-sifat tak bercela ini muncul sebagai ha-sil dari peristiwa kebetulan, se-bagaimana diklaim oleh para evolusionis. Allah menciptakan laba-laba, lengkap dengan sis-tem yang menakjubkan ini.
Gambar kiri menunjuk-kan benang penangkap dari seekor laba-laba ecribellate, seperti A. diadematus, yang diper-besar 100 kali. Lapisan encer yang memberikan benang sifat lengketnya tampak di sini sebagai tetes-tetes kecil. Pada gambar kedua, dengan perbesaran 300 kali, tampak benang-benang tergulung seperti bola kabel. Tegangan per-mukaan di dalam ma-sing-masing tetesan ini menyatukan serat-serat inti, menciptakan suatu sistem mesin pengerek, yang terlihat dalam kondisi mengerut. Di bawah tekanan, sis-tem mengendur dan be-nang dapat meregang hingga panjang sekali.

Letak kelenjar sutera laba-laba ditemukan di daerah sekitar dasar perut laba-laba. Masing-masing kelenjar menghasilkan elemen yang berbeda. Beragam jenis benang sutera dihasilkan dari beragam kombinasi elemen-elemen dari kelenjar-kelenjar ini. Ada keserasian yang sangat tinggi di antara kelenjar-kelenjar tersebut. Selama proses produksi sutera, digunakan pompa-pompa dan sistem tekanan khusus yang canggih di dalam tubuh laba-laba. Sutera mentah yang diproduksi dikeluarkan dalam bentuk serat-serat melalui cerat-cerat pemintal (nosel) yang berfungsi seperti keran. Laba-laba dapat mengatur tekanan semprotan dari cerat-cerat ini sesuai dengan keinginannya. Ini merupakan ciri yang sangat penting karena dengan cara inilah pembentukan molekul-molekul yang membentuk keratin mentah diubah. Dengan mekanisme kendali pada katup-katup tersebut; diameter, daya tahan, dan elastisitas benang dapat diubah saat pembuatan. Maka benang dapat dibentuk dengan karakteristik yang dikehendaki tanpa harus mengubah komposisi kimianya. Jika dikehendaki perubahan yang lebih besar pada benang, kelenjar lain harus bekerja. Benang-benang sutera halus yang dihasilkan, dengan berbagai keistimewaannya, dibentuk sesuai keinginan dengan menggunakan kaki-kaki belakang secara piawai.


Setiap laba-laba menghasil-kan sutera dengan berma-cam-macam sifat untuk fung-si-fungsi yang sesuai. Laba-laba yang dikenal sebagai A. diadematus dapat membuat sutera dengan beragam kom-posisi asam amino. Laba-laba menggunakan kelenjar perut dan katup untuk menghasil-kan tujuh macam sutera. Be-nang-benang ini, yang lebih kuat dari baja dan lebih lentur dari karet dan merupakan salah satu material paling sempurna di muka bumi, dihasilkan di dalam tubuh laba-laba. Inilah seni cipta Allah, Dia yang menciptakan segala sesuatu dan Maha Mengawasi semua makhluk.

1.KELENJAR FLAGELLIFORM, 2. KELENJAR PENGUMPUL , 3. KELENJAR SILINDRIS, 4. KELENJAR AMPULLATE KECIL, 5. SETERA LUARAN YANG KUAT UNTUK KANTUNG TELUR, 6. KELENJAR PIRIFORM, 7. KELENJAR AMPULLATE BESAR, 8. KELENJAR ACINIFORM, 9. sPIRAL PEMBANTU , 10.TALI-GANTUNG 11. SUTERA STRUKTURAL, 12. SEMEN UNTUK SAMBUNGAN DAN TEMPELAN, 13. SUTERA DALAM YANG LEMBUT UNTUK KANTUNG TELUR, 14 PELAPIS ENCER , 15. SERAT-SERAT INTI DARI SPIRAL PENANGKAP
Perbandingan campuran antara elemen-elemen yang dihasilkan keenam kelenjar sangat penting. Sebagai contoh, jika benang lengket yang dibuat, dan jumlah bahan perekatnya tidak memadai, maka kemampuan untuk menangkap mangsa akan hilang. Jika bahan perekatnya terlalu banyak, daya-guna jaring akan berkurang. Untuk mencapai tujuan yang dikendaki, produk-produk kelenjar lain harus digunakan dengan kadar yang benar.


Penduduk setempat memanfaatkan benang dari laba-laba jaring bola emas untuk memancing, karena jaringnya sangat kuat. Warna keemasan jaring memperdayai lebah dan serangga dan menarik mereka ke dalamnya.

Hasil dari proses-proses ini adalah sutera laba-laba dengan beragam sifat, yang semuanya berbeda satu sama lain, dan mampu melayani berbagai fungsi. Sutera laba-laba begitu kuat sehingga ahli zoologi, Vollrath, mengungkapkannya dengan kata-kata berikut: "Sutera laba-laba lebih kuat dan lebih elastis dibanding Kevlar, sementara Kevlar adalah serat terkuat buatan manusia." Discover, How Spiders Make Their Silk, October 1998, p. 34

Ini hanya sebagian dari sifat khas sutera laba-laba. Tidak seperti Kevlar, bahan plastik kuat untuk pembuatan jaket anti peluru, sutera laba-laba dapat didaur ulang dan digunakan berkali-kali.

Hal yang paling penting di sini adalah bahwa produk yang paling sempurna di dunia ini, yang lebih kuat dari baja dan lebih elastik dibanding karet, di buat di dalam tubuh laba-laba. Pabrik tekstil terbesar dengan teknologi termaju, juga laboratorium kimia terlengkap dan termoderen sekalipun belum sanggup membuat bahan yang menyerupai sutera laba-laba. Lalu bagaimana seekor laba-laba mampu merencanakan bahan kimia yang begitu unggul? Setelah merencanakannya, bagaimana ia mengetahui sumber bahan mentah yang diperlukan untuk membuatnya? Bagaimana pula ia menentukan kadar keenam bahan dasarnya? Peralatan apa yang dipakainya untuk menentukan perbandingan bahan dasar tersebut?


Tetesan-tetesan halus pada permukaan benang terlihat di sini.
Tidak diragukan bahwa semua itu mustahil terjadi secara kebetulan, sebagaimana dinyatakan kaum evolusionis. Laba-laba tak akan mampu menciptakan sistem baru dalam tubuhnya sendiri. Mustahil ia dapat mengetahui sekonyong-konyong apa saja yang diperlukan lalu kemudian menempatkannya di dalam tubuhnya. Gagasan seperti itu jauh dari kenyataan ilmiah dan logika.

Jelas sistem yang mampu menghasilkan sutera dengan beragam keistimewaan itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Pernyataan seperti itu hanyalah omong-kosong belaka.

Tuhan, Pencipta langit dan bumi, lah yang menciptakan laba-laba dengan semua sistemnya yang halus dan rumit ini, Dia lah yang menciptakan segalanya tanpa cacat sedikit pun, dan Dia Maha Mengetahui atas segala mahlukNya.
…Tiada sekutu bagiNya di Kerajaan ini. Dia lah yang menciptakan segala sesuatu dan menentukannya dengan ukuran yang tepat. (Surat Al-Furqan:2)

Benang Yang Paling Cocok Bagi Peruntukannya

Tidak dikenal luas bahwa laba-laba menggunakan lebih dari satu jenis benang saat membuat jaringnya. Sebenarnya, laba-laba membuat beragam benang dalam tubuhnya untuk tujuan yang berbeda-beda. Jelas karakteristik ini sangat penting jika kita melihat kehidupan laba-laba. Penting karena benang-benang untuk berjalan, untuk menangkap mangsa, dan untuk membungkus mangsa harus berbeda satu dengan lainnya. Sebagai contoh, jika benang yang digunakan untuk berjalan sama lengketnya dengan benang untuk menangkap mangsa, maka laba-laba akan terjerat padanya dan berakibat kematian.

Mari kita lihat sebuah contoh. Semua laba-laba membuat dan menggunakan beragam sutera. Namun nampaknya, laba-laba Araneid merupakan pembuat jaring bola paling banyak ragam suteranya. Sedikitnya, laba-laba ini membuat tujuh macam sutera. Yang pertama adalah sutera yang membentuk kerangka dan jari-jari bola serta tali-gantung (dragline) untuk dia turun ke bagian bawah; yang kedua adalah sutera lengket yang digunakan untuk membentuk spiral penangkap. Sebagai tambahan, laba-laba ini membuat perekat untuk melapisi sutera spiral tersebut; serat-serat tambahan yang memperkuat kerangka dan tali-gantung; sutera kokon; sutera untuk membungkus mangsa; dan sutera untuk melekatkan kerangka dan tali-gantung ke struktur pondasi. Endeavour, The Structure and Properties of Spider Silk, January1986, no 10, p. 37
Semua sutera ini, dengan beragam kekuatan dan elastisitas, juga memiliki ketebalan dan daya lengket yang berbeda-beda. Tali-gantung yang menjadi bagian terpenting dari kehidupan laba-laba, misalnya, tidak memiliki daya-rekat meskipun kuat dan elastik. Tali ini dapat menahan beban hingga dua atau tiga kali berat tubuh laba-labanya. Berkat tali sutera inilah laba-laba yang sedang membawa mangsa dapat bergerak aman ke atas dan ke bawah.

Sebagaimana telah kita lihat, agar dapat bertahan hidup, laba-laba harus mampu membuat beragam jenis sutera dan tahu di mana harus menggunakan masing-masing jenis sutera tersebut. Hilang satu jenis saja berarti kematian baginya.

Mustahil seekor laba-laba dapat bertahan hidup tanpa memiliki semuanya itu secara bersamaan. Bayangkanlah seekor laba-laba yang mampu membuat jaring yang sempurna namun tak memiliki daya-rekat. Jaringnya tidak akan berguna sama sekali. Menunggu beribu-ribu tahun untuk terjadinya proses evolusi juga bukan suatu pilihan baginya, karena tanpa pengetahuan ini laba-laba akan mati dalam beberapa hari saja. Atau bayangkan lagi seekor laba-laba yang mampu membuat beragam sutera tetapi tak mampu membuat jaring dari sutera tersebut. Tentu saja sutera buatannya tak berguna sama sekali, dan lagi-lagi ia akan mati. Bahkan jika ia mampu membuat semua jenis sutera kecuali sutera kokon untuk melindungi telur-telurnya, maka laba-laba tersebut akan punah. Maka, laba-laba tak pernah memiliki waktu untuk mendapatkan semua karakteristik yang kini dimilikinya satu demi satu secara bertahap sebagaimana pernyataan kaum evolusionis.

Tidak satu keistimewaan pun dapat terjadi secara bertahap seperti dinyatakan kaum evolusionis. Sejak laba-laba pertama yang lahir ke bumi, semua laba-laba harus berwujud lengkap. Semua fakta ini merupakan bukti bahwa laba-laba muncul ke dunia langsung dalam bentuknya yang sempurna. Dengan kata lain, laba-laba diciptakan oleh Tuhan. Dengan keajaiban penciptaan laba-laba ini, Tuhan hendak menunjukkan kepada kita kekuasaan dan ilmuNya yang tiada batas.

Elastisitas Benang Sutera
Bergantung pada tujuan pemakaiannya, benang laba-laba memiliki sifat-sifat yang berbeda. Sebagai contoh, benang-benang lengket berbeda dari benang untuk tali-gantung yang dibuat dalam kelenjar yang berbeda pula. Benangnya lebih tipis dan lebih elastik. Dalam kondisi tertentu, benang jenis ini dapat molor hingga 500-600 persen.

Laba-laba memiliki sistem pompa-dan-katup yang memungkinkannya mampu membuat benang sutera. Saluran-saluran kelenjar mengentalkan zat yang dipancarkannya menjadi bentuk yang sangat pekat - suatu kristal cair yang molekul-molekulnya tersusun dalam garis-garis sejajar. Gaya-gaya geser kuat yang ditimbulkan cerat ekstrusi pada benang yang keluar, menyebabkan rantai-rantai membentuk struktur tersier stabil yang disebut sebagai lapisan/lembaran berlipit-beta (beta-pleated sheet).

Kristal-kristal protein ini selanjutnya dimasukkan kedalam matriks semacam karet, yang tersusun dari rantai-rantai asam amino, yang tidak terhubung ke lapisan-lapisan berlipit-beta. Namun, tali-tali helikal ini terikat dalam keadaan yang berentropi tinggi. Kondisi acak inilah tepatnya yang menyebabkan elastisitas luar biasa, seperti karet, pada sutera. Meregangkan benang sutera menyebabkan lepasnya tali-tali protein dari keadaan tidak-teraturnya, sedangkan mengulurnya memungkinkan tali-tali ini berhubungan kembali membentuk ketidakteraturan. Scientific American, Spider Webs and Silks, March 1992, p. 70

Elastisitas benang-benang lengket memungkinkan terhentinya gerakan serangga yang menubruknya secara perlahan-lahan. Dengan demikian, bahaya putusnya jaring berkurang. Zat perekat yang digunakan diproduksi dalam grup kelenjar-kelenjar lain yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Bahan ini sedemikian rekatnya sehingga serangga yang terjerat jaring mustahil dapat lolos.

Benang Laba-laba Lebih Kuat Daripada Baja

Sutera laba-laba merupakan skleroprotein yang dipancarkan dari cerat pemintal dalam bentuk cairan. Skleroprotein adalah sejenis protein yang mengeras dan membentuk struktur elastik yang kokoh jika berhubungan dengan udara. Berkat protein inilah sutera laba-laba sangat kuat. Sutera ini demikian kuat dan alotnya sehingga jaringnya dalam skala besar dapat menangkap pesawat udara. Science News, Computer Reveals Clues to Spiderwebs, 21 January 1995

Elastisitas sutera diimbangi oleh kekuatannya. Karena merupakan bahan komposit, seperti serat-serat gelas dalam resin, sutera memiliki kekuatan tinggi. Kristal dan matriksnya tidak mudah hancur. Benang yang teregang biasanya melesak karena retakan pada permukaannya membelahnya secara memasung. Gaya-gaya yang bekerja di sepanjang serat terpusat pada retakan dan mengakibatkan sobekan kedalam yang semakin cepat. Namun, retakan semacam ini hanya dapat terus bergerak jika tidak menemui rintangan. Kristal-kristal dalam matriks karet dari sutera laba-laba merupakan rintangan-rintangan yang membelokkan dan melemahkan gaya sobekan ini. Scientific American, Spider Webs and Silks, March 1992, p. 70

Pada benda yang tegang, kerusakan sedikit pun pada permukaannya bisa membahayakan. Namun pada benang laba-laba, risiko ini terhindari dengan adanya tindakan pencegahan. Ketika laba-laba taman membuat suteranya, pada saat yang sama ia melapisinya dengan bahan cair sedemikian rupa sehingga setiap kemungkinan retakan pada permukaan sutera bisa dihindari. Cara yang dilakukan laba-laba berjuta-juta tahun lamanya ini, kini digunakan pada kabel-kabel industri kekuatan tinggi untuk beban berat.
Sejauh ini, uraian di atas merupakan uraian teknis dari keajaiban konstruksi sutera laba-laba. Kini kita harus berhenti dan berpikir. Kebenaran apa yang mendasari penjelasan teknis ini? Jelas sekali bahwa laba-laba tidak mengetahui tentang protein-protein dan keadaan kristal dari atom. Ia juga tidak mengetahui ilmu kimia, fisika, ataupun ilmu rekayasa. Ia adalah mahluk tanpa kemampuan berpikir. Karena keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya, mustahil semua ini sebagai akibat kejadian kebetulan. Namun jika demikian, lalu siapa yang membuat rencana-rencana dan perhitungan-perhitungan di atas? Karena setelah kita pelajari dari jaring dan suteranya, dan dari cara berburu serta cara hidupnya, jelas sekali bahwa operasi teknis tanpa cacat ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya.

Setiap laba-laba yang kita lihat di sudut-sudut taman atau di sela-sela tanaman di taman, dengan kemampuan kimia, fisika dan arsitekturalnya, lagi-lagi merupakan bukti yang jelas dari karya-cipta Tuhan. Pada mahluk hidup ini, Tuhan hendak menunjukkan kepada kita kebijakanNya yang tak berbatas, Kekuasaan ciptaanNya yang tiada tanding. Tuhan menyatakan kebenaran ini di dalam Al-Qur'an:

Semua yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. KepunyaanNya lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surat Al-Hadid:1-2)

Teknik Pembuatan Jaring Yang Mengagumkan Dari Laba-laba Taman

Laba-laba taman menggunakan tiang penopang untuk memperkokoh sarang mereka. Pada jaringnya, laba-laba menstabilkan spiral terluarnya dengan 4 hingga 6 titik pegangan dan menggantungnya secara vertikal untuk menangkap serangga yang sedang terbang. Selain itu, laba-laba ini melekatkan pemberat pada bagian bawah benang spiral terluar, dari benang pendek lainnya sedemikian rupa sehingga membuatnya tegang. Pemberat ini, yang membuat jaring menjadi kuat dan berayun di udara, bisa berupa batu kecil, sepotong kayu, atau cangkang siput. Para ilmuwan telah mengamati bahwa jika mereka mengangkat dengan hati-hati pemberat yang tergantung pada jaring tanpa melepaskannya dan tanpa menghentikan ayunannya, laba-laba yang sedang menunggu di sarangnya segera muncul dan memeriksanya. Kemudian laba-laba tersebut memperpendek benangnya agar pemberat tersebut berayun bebas kembali. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa semua itu dilakukan laba-laba untuk memperkokoh jaringnya. Bilim ve Teknik Dergisi (Journal of Science and Technology), No 342, May 1996, p.100

Perangkap Paling Kejam Di Dunia

Mangsa yang tertangkap dalam sebuah jaring laba-laba tidak bisa berkutik sama sekali. Perangkap ini dipersiapkan sedemikian piawainya sehingga setiap gerakan korban untuk lolos mengakibatkan hilangnya elastisitas benang dan semakin mempererat jeratan pada mangsa. Sejalan dengan waktu, dan setelah korban kehabisan tenaganya, jaring menjadi semakin kuat dan semakin tegang dari sebelumnya. Laba-laba yang mengawasi perjuangan sia-sia ini, dari salah satu sudut jaring, dengan mudah dapat membunuh mangsanya yang telah lunglai.

Ketika serangga yang terperangkap berusaha lolos, seseorang bisa saja menduga bahwa jaringnya akan rusak dan korban akan lolos dari perangkap. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Jaring tersebut menjadi semakin kuat dan sama sekali membuat serangga mati kutu. Bagaimana jaring laba-laba bisa menjadi lebih kuat ketika korban berusaha untuk lolos?

Jawabannya muncul saat kita memeriksa struktur jaringannya. Benang-benang penangkap berubah bentuk karena kelembaban udara. Perubahan ini terjadi sebagai berikut. Benang spiral laba-laba taman terbentuk dari menyatunya dua serat berlapis-cairan. Cairan lengket ini dibuat dalam kelenjar yang berbeda dari kelenjar penghasil serat. Benang sutera yang keluar dari kelenjar serat secara sinambung dilapisi bahan lengket ini. Sumber bahan perekat ini adalah glikoprotein yang dikandungnya. Lebih jauh lagi, 80 persen bahan ini adalah bahan ekonomis, yakni air. Science et Vie, L'économie de la toile d'araignée, January 1999, No.976, p.30
Ketika bertemu dengan air di udara, cairan lengket ini terurai menjadi butiran-butiran kecil yang melekat ke benang. Pengerutan dan peregangan benang lengket secara cepat dan berulang akan membengkokkan dan meluruskan serat-serat inti dalam butiran-butiran ini. Karenanya, keseluruhan sistem serat-inti dan pelapis selalu dalam keadaan tertarik, dan membuat benang lengket ini tetap tegang. Energi dari hentakan angin atau dari gerakan serangga tidak hanya diserap sutera saja, melainkan oleh keseluruhan sistem tersebut.

Serat-serat inti memberikan andil juga dalam keseluruhan proses di atas. Seperti halnya karet yang diperkuat, serat-serat ini terplastisasi dan mendapat manfaat langsung dari elastisitas entropik yang bergantung pada temperatur. Karena energi kinetik dari mangsa sebagian besar berubah menjadi panas, benang-benang menjadi hangat. Pemanasan ini meningkatkan entropi, dan karenanya serat-serat inti menjadi semakin kuat. Energi yang diserap dari mangsa benar-benar memperkuat benang penangkap, dan hal ini terjadi karena kepandaian laba-laba dalam menggunakan pelapisan encer.( Scientific American, Spider Webs and Silks, March 1992, p. 74) Dari segi ini, jaring laba-laba merupakan perangkap paling kejam yang ada di alam.

Anda mungkin bertanya, apakah keistimewaan-keistimewaan ini terdapat pula pada benang-benang sutera lain. Apa yang terjadi jika memang demikian halnya? Misalnya, apa yang terjadi jika benang penahan-beban memiliki kapasitas regang yang sama? Tentunya akan sangat sukar bagi laba-laba untuk membawa dirinya dan mangsanya. Berbeda dari benang-benang penangkap, sutera penahan-beban yang membentuk kerangka jaring laba-laba dilapisi zat kimia lain yang melindunginya dari air, karena benang ini tidak harus seelastis benang lengket.

Seperti telah kita lihat, laba-laba membuat zat pelapis yang berbeda untuk fungsi dan konstruksi sutera yang berbeda. Lalu, bagaimana laba-laba dapat mengetahui ragam efek fisika dan efek kimia dari zat pelapis ini? Berpegang teguh dengan pendapat bahwa laba-laba telah terlatih, atau belajar dari pengalaman, atau terjadi karena kebetulan sungguh jauh dari akal sehat.

Sedikit pemikiran saja sudah cukup untuk mendapatkan jawaban yang benar. Agar laba-laba bisa merencanakan semua ini, maka ia harus mempelajari semua struktur-struktur molekul, serta mekanisme kimia yang menyebabkan pemadatan benda cair seperti yang telah kami uraikan di atas. Setelah mempelajari semua itu, ia harus mengambil keputusan untuk memproduksinya. Setelah keputusan itu diambil, ia harus melakukan perubahan pada tubuhnya dan menyusun sistem-sistem untuk membuat semua produk tersebut.

Tentu saja yang demikian itu hanya skenario khayal belaka. Seperti telah kita lihat, perencanaan tubuh laba-laba yang demikian sempurna dan perilakunya yang memiliki tujuan, tidak dapat dijelaskan dengan peristiwa apapun di alam, atau dengan kekuatan apapun. Dan semua orang yang berakal sehat dapat melihat bahwa laba-laba tak akan mampu melakukan sendiri semua itu bagi dirinya. Karenanya, mustahil menjelaskan perilaku laba-laba dan struktur fisiknya, dengan istilah perubahan-perubahan yang bertahap sejalan dengan waktu, atau dengan proses evolusioner lainnya.

Semua mahluk hidup di alam memiliki karakteristik yang serupa, atau bahkan lebih rumit, dibanding laba-laba. Mempelajari salah satunya saja akan cukup untuk meyakinkan adanya rencana nyata dalam mahluk-mahluk ini. Sangat jelas ada suatu kekuatan yang menguasai mereka. Rencana fisiknya, juga perilakunya membuktikan bahwa mahluk-mahluk hidup ini dibuat oleh Sang Pencipta, yakni Tuhan. Kecerdasan saja tidak akan memadai untuk bisa melihat hal ini. Tuhan, Penguasa seluruh dunia telah menyatakan fakta ini kepada manusia dalam ayatNya, '(Dia lah) Penguasa Timur dan Barat dan segala yang ada di antaranya. Jika saja kamu menggunakan akalmu.' (Surat Asy-Syuara:28)

Sutera Laba-laba Dan Industri Pertahanan/Senjata

Kekuatan dan elastisitas bahan merupakan hal yang sangat penting dalam sektor industri. Kekuatan memperluas bidang penerapan, sedangkan elastisitas meningkatkan kemudahan penerapannya. Dari segi kekuatan dan elastisitasnya, benang laba-laba merupakan bahan paling sempurna di dunia. Karena alasan inilah para peneliti sangat menggiatkan kajian mereka terhadap sutera laba-laba pada kuartal terakhir abad 20. Sebagai hasilnya, mereka telah mampu membuat bahan kimia yang serupa dengan sutera namun dengan mutu yang jauh lebih rendah. Pendek kata, meskipun menggunakan seluruh sumberdaya dan penelitian mendalam, serta teknologi moderen belum mampu menghasilkan suatu benang yang setara dengan benang yang dibuat laba-laba.

Benang laba-laba merupakan suatu protein yang terdiri dari asam-asam amino: glisin, alanin, serin, dan tirosin. Perusahaan Du Pont telah memproduksi beragam serat sintetik dengan menggali formula kimia sutera, dan dengan menentukan tata-letak molekul-molekul penyusunnya. Setiap molekul raksasa dalam polimer sintetik ini terbuat dari ribuan rantai molekular atom-atom karbon, oksigen, nitrogen, dan hidrogen. Produk buatan yang dikenal dengan nama Kevlar ini merupakan serat organik yang terbaik. Dengan kekuatan dan elastisitasnya, serat-serat sintetik Kevlar memiliki karakteristik fisik yang mendekati sutera laba-laba.
Kevlar digunakan pada sabuk pengaman mobil dan dalam berbagai bagian dari pakaian pelindung. Bahan penting ini juga banyak digunakan dalam industri pesawat terbang dan kapal laut sebagai bahan luar, dalam produksi serat-optik dan kabel-kabel elektro-mekanik, dalam industri tali dan kabel, dan dalam berbagai peralatan olah-raga.

Serat Kevlar terbuat dari "poli-parafenilena tereftalamida". Serat yang terdiri dari rantai-rantai molekular panjang ini tahan tekuk dan cocok untuk benang berkat konstruksinya. Karena ringan dan tahan lama, bahan ini kini banyak digunakan di berbagai bidang industri.

Salah satu bidang yang terpenting yang memanfaatkan Kevlar di abad ini adalah industri pertahanan/senjata. Rompi anti peluru yang biasanya terbuat dari baja, kini dibuat dari kain tenun serat Kevlar, yang penampilannya tidak berbeda dari kain biasa. Berkat sifat redam-kejutnyanya, Kevlar mengurangi gaya tumbukan peluru. Ini merupakan temuan teknologi paling penting dan paling berguna. Meskipun demikian, kekuatan redam-kejut serat Kevlar hanya lah sepertiga dari kekuatan redam-kejut sutera laba-laba.
Jadi, fakta ini menyimpulkan bahwa pusat-pusat riset ilmiah dengan teknologi terbarunya hanya mampu menghasilkan tiruan yang mutunya lebih rendah dibanding sutera buatan laba-laba. Perbedaan ini merupakan bukti bahwa Tuhan lah yang menciptakan mahluk-mahluk hidup dengan kekuasaanNya yang tiada tanding.

Pemanfaatan Sutera Laba-laba Dalam Kehidupan Manusia

Selama riset kimiawi terhadap sutera laba-laba, benang-benang sutera diambil dari laba-laba dengan mesin-mesin khusus. Dengan cara ini bisa diperoleh 320 meter sutera per hari dari satu ekor laba-laba (sekitar 3 miligram) tanpa melukainya.

Ilmu kedokteran merupakan bidang lain yang menggunakan benang laba-laba melalui cara di atas. Dengan kata lain, laba-laba telah dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Para ahli Farmakologi di Wyoming University, Amerika Serikat, menggunakan benang laba-laba Nephila sebagai benang jahit untuk operasi yang sangat sensitif, seperti operasi-operasi pada tendo.

<<  |  >>

Keajaiban Laba-laba Ciptaan Allah SWT 4 - Harun Yahya

KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK LABA-LABA PELOMPAT
Lompatan sempurna

“Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.”
(QS. Al Jaatsiyah, 45: 4) !

Berbeda dari laba-laba spesies lainnya yang membuat jaring dan menunggu mangsa, laba-laba pelompat lebih suka menyerang mangsanya dengan cara melompat, sesuai dengan nama yang disandangnya. Laba-laba ini demikian ahlinya sehingga mampu menangkap serangga yang yang sedang terbang dari jarak setengah meter lebih.

Teknik yang mengagumkan ini bisa dipakai laba-laba berkat daya tekan hidrolik pada kedelapan kakinya. Pada akhir penyerangan, laba-laba ini menukik ke arah mangsanya dan menancapkan taringnya. Lompatannya biasanya dilakukan di antara tumbuh-tumbuhan di daerah yang lebat. Untuk bisa berhasil, laba-laba harus memperhitungkan sudut lompatan yang tepat, juga kecepatan dan arah gerak dari korbannya.

Yang lebih menarik lagi adalah cara laba-laba ini menghindari bahaya kematian setelah menangkap mangsanya. Karena harus melemparkan dirinya ke udara saat menangkap mangsanya, laba-laba ini menghadapi risiko kematian. Ia bisa jatuh luluh ke tanah dari ketinggian (biasanya dari puncak pohon). Namun laba-laba ini menghindari hal ini dengan menambatkan benang sutera yang dibuatnya ke cabang pohon tempat ia bertengger sebelum melompat. Ini mencegahnya jatuh dan membuatnya bergantung di udara. Benang tersebut cukup kuat untuk menahan beban tubuhnya dan mangsa yang ditangkapnya.
Misi: Mencari dan mengunci sasaran


Laba-laba pelompat diciptakan cukup kuat untuk memburu mangsa yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Karakteristik lainnya dari laba-laba ahli melompat ini juga tak bercacat. Dua dari matanya yang terletak di tengah kepalanya menjorok ke depan seperti teropong. Dua matanya yang besar ini dapat bergerak ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah pada soketnya. Berkat retina mata yang berlapis empat, yang sensitif terhadap gelombang hijau dan ultraviolet, jarak pandang laba-laba ini baik sekali. Penglihatan keempat mata lain di sisi kepalanya tidak sejelas kedua mata depan ini, namun dapat merasakan setiap gerakan di sekitarnya. Dengan cara ini, hewan ini dengan mudah merasakan keberadaan mangsa atau musuh di belakangnya. National Geography, All Eyes on Jumping Spiders, September 1991, pp. 43-64
Mari kita pikirkan apa yang telah kita pelajari sejauh ini. Konstruksi tubuhnya sedemikian rupa sehingga membuatnya lincah bergerak, dan mampu menangkap mangsanya dengan satu lompatan. Matanya juga mampu melihat mangsanya dari setiap arah.

Secara alami, laba-laba ini tidak berpikir bahwa mata-mata tambahannya bisa bermanfaat baginya, lalu kemudian menggunakannya. Mata-matanya ini tidak muncul secara kebetulan. Hewan ini diciptakan Tuhan, lengkap dengan semua karakteristiknya. Teori evolusi, yang tak mampu menjelaskan bagaimana terjadinya sebuah mata, tak mampu berkomentar terhadap kedelapan mata laba-laba pelompat ini, serta koordinasi diantara semuanya.

Teknik Penyamaran Yang Lengkap


Kemampuan banyak mata laba-laba pelompat, untuk melihat secara terpisah memungkinkan mengetahui benda-benda lebih cepat. Kemampuan ini, bukti dari ilmu Allah yang tinggi, menjadikan laba-laba pelompat pemburu yang ulung.
Jika Anda ditanya apa yang dapat Anda lihat dalam gambar kanan-atas ini, umumnya Anda akan menjawab "beberapa semut di atas dan di bawah daun". Namun sesuatu yang diam menunggu di bawah daun tersebut bukanlah seekor semut, melainkan laba-laba pelompat yang dikenal sebagai Myrmarachne. Satu-satunya cara untuk membedakan laba-laba tersebut dari semut adalah dari jumlah kakinya. Karena laba-laba memiliki delapan kaki sedangkan semut hanya enam.

Bagaimana laba-laba pelompat bisa mengelabui semut-semut? Ia melakukannya bukan hanya dengan bentuk penampilan saja, melainkan juga dengan perilakunya. Sebagai contoh, untuk menyembunyikan jumlah kakinya, laba-laba pelompat memegang dua kaki depannya untuk meniru antena semut. (Natural History, Samurai Spiders, 3/95, p. 45 )Dengan cara ini, kaki-kaki ini menyerupai antena semut. Sampai di sini kita mesti berhenti dan berpikir: itu berarti bahwa laba-laba dapat berhitung. Laba-laba ini menghitung jumlah kaki-kakinya dan jumlah kaki semut, dan kemudian membandingkannya. Melihat adanya perbedaan ini, ia mengerti bahwa ia harus menutupinya dengan cara yang sangat pintar dengan membuat dua kaki depannya menyerupai antena.


Dari ketiga serangga di gambar ini, hanya dua dua di pinggir yang semut, yang ditengah adalah laba-laba pelompat. Perbedaan antara laba-laba dan semut adalah sepasang kaki tambahan yang dimiliki laba-laba.
Sampai di sini, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan. Pertama-tama, laba-laba samasekali berbeda secara fisik dari semut. Agar bisa menyerupai semut, tidak cukup bagi laba-laba hanya dengan mengangkat dua kakinya ke udara. Ia juga harus meniru cara semut berjalan dan posisi tubuhnya. Untuk itu ia harus menjadi pengamat yang ahli, juga ahli dalam meniru apa yang dilihatnya, seperti seorang aktor yang sedang memainkan sebuah peran.


Rahang yang dapat Dilipat

Laba-laba pelompat ini, Mopsus mormon, dapat dengan mudah menangkap mangsa hingga lima kali lebih besar dari ukurannya sendiri (kiri), karena ia memiliki rahang yang besar dan kuat. Ketiak laba-laba itu tidak meng-gunakan rahang yang hitam dan besar untuk berburu, ia melipat-nya ke dalam mulutnya, membuat ia dapat bergerak dengan bebas. Berkat rahang yang kuat ini, Mopsus mampu dapat mena-ngani tikus, bahkah ular.
Seperti telah kita lihat, laba-laba di atas menggunakan cara-cara peniruan yang memerlukan pemikiran, merubah pemikiran tersebut kedalam tindakan, dan melakukan perubahan-perubahan fisik saat melakukannya. Tak satu pun manusia yang berakal sehat akan menyangkal bahwa laba-laba tidak dapat melakukan semua itu. Satu saja alasannya, otak laba-laba tidak akan mampu memikirkannya. Jika demikian, apa yang menjadi sumber kemampuan laba-laba ini? Namun sebelum sampai pada suatu kesimpulan, sebaiknya kita lihat dahulu beberapa kemampuan lain yang diperlukan bagi sempurnanya penyamaran diatas.

Penyamaran laba-laba tidak sebatas uraian diatas. Agar nampak seperti semut, ia harus menyembunyikan matanya yang besar itu. Sebuah karakteristik laba-laba menyelesaikan masalah ini. Dua bintik gelap di kedua sisi kepala laba-laba menyerupai mata majemuk besar dari semut penganyam. Natural History, Samurai Spiders, 3/95, p. 45


Berkat tubuhnya yang datar, laba-laba Selandia Baru ini dapat menya-markan dirinya dengan mudah di antara daun-daun.
Mari kita berhenti dan berpikir. Laba-laba ini tidak mengetahui adanya kedua bintik di sisi kepalanya. Sangat tidak logis untuk membicarakan bahwa seekor laba-laba mengetahui sesuatu hal dan secara sadar mengembangkan suatu strategi darinya. Dalam hal ini, bagaimana laba-laba ini bisa memiliki mata palsu dikedua sisi kepalanya? Bgaimana laba-laba bisa "belajar", "menghitung", dan "meniru"? Apa yang akan terjadi apabila ia tidak memiliki kedua mata palsu itu? Dalam keadaan demikian, sebagus apapun peniruan yang dilakukan laba-laba, semut akan dapat mengetahuinya. Jika semut-semut menyadari bahaya ini dan bereaksi sebelum laba-laba bertindak, maka akan tamat lah riwayat laba-laba ini. Semut-semut akan membunuh laba-laba dengan taringnya yang kuat. Jelas bahwa dapat meniru saja tidak lah cukup, laba-laba juga harus memiliki mata palsu sejak lahir agar penyamarannya berhasil.


Begitu menetas, setiap laba-laba muda mempunyai kemampuan untuk membuat jaring, karena dia diciptakan dengan sebuah tubuh yang dibuat untuk membangun jaring dan dengan kecakapan dan pengetahuan tentang bagaimana sebuah jaring dibangun.
Ini adalah beberapa karakteristik yang diperlukan laba-laba ini untuk dapat bertahan hidup. Satu saja hilang, laba-laba pelompat ini akan langsung mati. Karenanya mustahil bahwa laba-laba ini muncul dengan semua karakteristik di atas karena peristiwa kebetulan. Laba-laba dan semua karakteristiknya terjadi secara bersamaan. Tuhan telah menciptakan setiap mahluk hidup dalam bentuknya yang sempurna, lengkap dengan karakteristik-karakteristik yang diperlukan.
Rahang Pisau-lipat
Laba-laba jantan Myrmarachne plataleoides memiliki penampilan yang paling menarik. Ia memiliki "hidung" yang panjang. Ketika laba-laba ini menangkap mangsanya, atau jika dalam bahaya, ia membelah "hidung"-nya dan merubahnya menjadi rahang-rahang dengan taring terhunus pada masing-masing ujungnya.( National Geography, All Eyes on Jumping Spiders, September 1991, p. 51 ) Ini dilakukannya dengan membuka lipatan pada "hidung"-nya itu. Selanjutnya, ia menggunakan alat tajam dan panjang ini layaknya sebuah pedang.

Kasih-sayang Laba-laba Pelompat
Pada saat-saat tertentu, laba-laba pelompat membawa anaknya yang baru lahir di punggungnya. Dengan cara ini ia dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus melindungi anak-anaknya dengan lebih baik. (Karl Von Frisch, Ten Little Housemates, Pergamon Press, London, 1960, p. 110 ) Sebagai mesin pembunuh berdarah dingin, laba-laba ini pada saat yang sama sangat mengasihi keturunannya. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi kaum evolusionis, yang berpendapat bahwa ada persaingan hidup di antara mahluk-mahluk hidup, dan hanya yang dapat menyesuaikan diri yang dapat bertahan hidup. Namun jika kita amati mahluk-mahluk hidup di alam, kita akan menemui contoh-contoh yang bertentangan dengan pendapat mereka. Ada banyak contoh kasih-sayang yang nyata di antara mahluk-mahluk dalam spesies yang sama maupun di antara spesies yang berbeda. Fakta pengorbanan diri untuk mahluk hidup lainnya, atau mengambil risiko maut demi anak-anaknya, membuat kaum evolusionis menemui jalan buntu saat mereka melihat fakta alam. Sebuah majalah ilmiah menguraikan keadaan ini sebagai berikut:


Laba-laba menggunakan warna mereka untuk menyamarkan dirinya. Laba-laba pelompat ini diciptakan dengan warna dan pola yang sama dengan tanah. Ia menunggu sampai seekor ngengat - yang tidak dapat melihatnya karena warnanya - mendekat, dan si laba-laba menerkamnya.


Peniruan laba-laba pelompat terhadap semut begitu sempurna sehinga laba-laba pelompat lainnya mengira mereka semut asli dan mencoba memburu mereka.
Pertanyaannya adalah mengapa mahluk-mahluk hidup saling membantu? Menurut teori Darwin, setiap mahluk hidup selalu berperang untuk mempertahankan hidupnya dan untuk berkembang biak. Karena menolong mahluk-mahluk lain akan mengurangi peluang hidupnya sendiri, pola perilaku ini semestinya telah lama hapus. Sebaliknya, banyak fakta bahwa mahluk-mahluk hidup kadang mampu mengorbankan diri. Bilim ve Teknik Dergisi (Journal of Science and Technology), no. 190, p. 4

Jelas mustahil untuk menjelaskan bahwa kasih-sayang induk binatang kepada keturunannya ini timbul melalui mekanisme evolusi. Ini merupakan fakta yang definitif sehingga banyak kaum evolusionis, seperti Cemal Yildrim, harus mengakuinya:

Adakah peluang untuk menjelaskan kasih-sayang terhadap keturunan dengan sistem "buta" yang tidak menyertakan faktor-faktor emosional (seleksi alam)? Sulit sekali untuk mengatakan bahwa para ahli biologi, dan para penganut Darwinisme, dapat memberikan tanggapan yang memuaskan terhadap pertanyaan ini. Cemal Yildirim, Evrim Kurami ve Bagnazlik (The Theory of Evolution and Bigotry), Bilgi Yayinlari, p.195


Kadang kala laba-laba pelompat bahkan saling memburu sesamanya. Yang menarik adalah bagaimana mereka melakukan ini dengan meniru spesies laba-laba lain. Phyaces comosus adalah artis peniru yang sempurna, yang menyelinap ke sarang laba-laba lain dan menyantap telur-telurnya.
Phyaces yang panjangnya 2 milimeter tampak seperti tiruan segumpal lumpur. Ia memanfaatkan kemiripan ini untuk memeragakan sesuatu yang unik. Dengan meniru segumpal lumpur yang digulingkan oleh angin, ia perlahan mendekati sarang yang menjadi sasarannya. Ia memainkan peranan sedemikian baik sehingga induk laba-laba yang berdiri menjaga di pintu masuk sarang tidak menunjukkan kecurigaan kepadanya. Ketika laba-laba itu telah dekat dengan telur-telur sasarannya, ia tiba-tiba menyerang, menyambar sebutir telur dan mulai memakannya. Apalagi, tubuh Phyaces tertutup oleh bulu yang sangat tebal. Ini memberikan perlindungan penting. Ketika Phyaces terjatuh di antara sesamanya, ia mengangkat kakinya dan mencoba menakut-nakuti saingan mereka dengan mempertontonkan bulu yang bersinar di bawah tubuh mereka. Allah lah yang memberikan spesies laba-laba ini semua keistimewaan yang dimilikinya. Allah adalah Pencipta yang tanpa tandingan. Dia mengetahui semua penciptaan.

Sebagian dari keistimewaan yang memungkinkan Morpus mormon dengan mudah menangkap mangsa yang lebih besar dari dirinya adalah kakinya yang kuat dan rahangnya yang mematikan. Laba-laba di gambar ini baru saja menangkap seekor damselfly, yang jauh lebih besar daripadanya, dengan melompat ke lehernya, titik terlemah di tubuhnya.

Laba-laba pelompat adalah pemburu yang sangat sukses, bahkan sampai untuk menangkap belalang sembah, yang dikenal sebagai makhluk paling ganas di dunia serangga (kanan atas). Tentu saja, terkadang mereka juga menjadi mangsa belalang. (kanan bawah)
Tentu saja mustahil untuk menjelaskan konsep cinta, kasih-sayang dan keinginan melindungi dari sudut pandang sistem "buta" manapun. Karena Tuhan lah yang mengilhami seluruh perilaku binatang, yang tak memiliki kesadaran dan kecerdasan. Binatang apapun mustahil mampu berkorban, menyiapkan rencana, bahkan melakukan apapun dengan kemauannya sendiri. Tuhan lah yang mengendalikan semuanya.



<<  |  >>

Sumber
 
Copyright © 2011 | @Warkop Aremania | All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template design by : Borneo Templates | First modified by : Johny Template | Last modified by : @Warkop Aremania | Inspired from : Wordpress Hacks